3 Keutamaan Berkeluarga di Dunia Akhirat

Notification

×

Iklan

Iklan

3 Keutamaan Berkeluarga di Dunia Akhirat

Sabtu, 31 Juli 2021 | 17:42 WIB Last Updated 2022-09-12T03:53:10Z

Segala hal yang ada di semesta alam, Allah ciptakan secara berpasang-pasangan. Dengan berpasang-pasangan, terciptalah keindahan, keserasian dan keseimbangan.

Begitu juga denganmu; ada pasangan yang diciptakan Allah untuk mengarungi kehidupan ini. Pasangan hidup disediakan oleh Allah agar kita tidak merasa sepi, sedih, dan merana. Ia hadir untuk menciptakan suasana indah, serasi, seimbang, dan penuh semangat.

Siapakah pasangan hidup itu? Mereka adalah fartner hidup, kawan senasib sepenanggungan, dan teman paling dekat yang menjadi penenang batin, penentram rasa, dan pengobat luka hati. Mereka bisa mengokohkan bangunan keluarga bila saja seluruh aktivitas dalam rumah tangga berdasarkan ibadah.

Menikahlah untuk berkeluarga karena itu merupakan kewajiban setiap muslim. Kita diwajibkan oleh Allah untuk membangun keluarga, agar hidup menjadi indah, berkah, dan berfaedah. Dengan berkeluarga inilah kita saling mengingatkan di kala salah, saling memerhatikan di kala susah, dan saling menjaga satu sama lain dengan cinta dan kasih sayang.

Manusia ialah makhluk sosial;ia tidak bisa hidup sendirian. Dikarenakan kita adalah seorang manusia tentunya memerlukan kehadiran manusia lain, untuk mengabdi penuh cinta kepada Allah.

Menikah bukan menghalalkan hubungan fisik semata, melainkan memperteguh segala bentuk rasa kasih sayang dan tanggung jawab antara kita dengan pasangan. Dengannya, kehormatan kita akan terjaga dan kesucian diri terpelihara.

Allah memerintahkan kita untuk berkeluarga, karena Dia sangat peduli dengan harkat, martabat, dan derajat kaum wanita. Karena hidup menyendiri itu tidak baik, kita harus membangun rumah tangga agar segala derita bisa dihadapi bersama, segala rintangan bisa dilalui, dan segala keluh kesah bisa ditanggulangi.

Menikahlah dan bangunlah keluarga agar hidup kita menjadi tenang. Jangan mau hidup selibat; hidup sendirian dengan alasan agar bisa fokus beribadah kepada Allah karena menikah dan berkeluarga juga ialah ibadah.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur [24]: 32).

Di dalam ayat tersebut, setidaknya mengandung beberapa manfaat bagi siapa saja yang menikah dan berkeluarga, diantaranya:

1. Menikah dan berkeluarga itu, akan mengubah kepribadian kita menjadi lebih baik; dari akhlak buruk menjadi akhlak baik.


Seorang muslim yang berkeluarga tidak hanya bertanggungjawab pada diri sendiri, tapi juga kepada pasangan dan anak-anaknya. Tak hanya itu, ia pun bertanggungjawab kepada Allah di akhirat kelak tentang hidupnya. Dengan tanggung jawab itu, seorang muslim akan berusaha menciptakan akhlak mulia di hadapan pasangan hidupnya (suami/istri), anak, orangtua, mertua, tetangga; dan utamanya di hadapan Allah.

Sebagai seorang muslim yang mukmin, kita tentunya tidak ingin akhlak buruk ditiru oleh anak-anak kita; karena itu, berusahalah memperbaiki setiap keburukan yang telah dilakukan.

2. Menikah dan berkeluarga juga akan membuat kita kaya, sejahtera dan bahagia di dunia dan bahagia di akhirat.


Dengan menikah dan berkeluarga, Allah akan melimpahkan rezeki-Nya; meluaskan rezeki; dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Selain itu, dengan menikah dan berkeluarga juga kita akan saling mengingatkan di kala alfa, saling bertegur di saat salah, dan saling menasihati ketika berbuat dosa.

Indah, ya, kalau seandainya, kita dan sekeluarga beribadah dan bertobat bareng-bareng di hadapan Allah. Di akhirat pun, kita akan selalu bergandengan tangan saat berjalan di shiratalmustaqim untuk menuju surga-Nya. Kenapa bisa begitu ya?

3. Menikah dan berkeluarga ialah separuh dari agama.


Ini artinya, separuh agama yang lain ialah keimanan, dan separuh lagi adalah menikah. Dengan menikah dan berkeluarga berarti sempurna separuh agama kita. “Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (HR. Ath-Thabrani).

Lho, kenapa menikah disebut sebagai separuh agama? Karena menghormati dan menghargai hak-hak pasangan merupakan bentuk ibadah kepada Allah. Berbuat baik dan taat kepada pasangan juga sebagai bentuk ketaatan kepada Allah.

Anak-anak yang dilahirkan ialah amanah dan tabungan kita untuk bekal di akhirat. Mendidik dan menyayangi mereka penuh cinta adalah sarana untuk meraih ridha Ilahi. Karena itu, agar pernikahan dan berkeluarga menjadi separuh agama, kita harus berusaha berbuat amal shalih. Bersabar, ikhlas dan selalu bertawakal serta bersyukur atas nikmat yang telah Allah limpahkan.


Ingatlah, bahwa menikah dan berkeluarga itu merupakan ibadah yang meneladani Rasulullah Saw. Berkeluarga merupakan amal ibadah individu dan sosial, karena ada hubungan interaksi dengan pasangan kita, orang tua, anak-anak, anggota keluarga, dan masyarakat. Semuanya itu, telah Allah contohkan melalui para nabi dan Rasul-Nya dengan memberikan keteladanan yang nyata.

Bila Rasulullah Saw. saja berkeluarga, mengapa umatnya harus hidup sendirian?

Jangan mau hidup sendirian tanpa berkeluarga. Sebab, menikah dan berkeluarga itu mampu membentuk tatanan keshalihan masyarakat. Pembentukan karakter masyarakat yang shalih dimulai dari luang lingkup terkecil yakni keluarga.

Karena dari keluarga, akhlak buruk seseorang bisa dicegah dengan terus menanamkan etika yang baik. Keshalihan sosial hanya bisa dibentuk dari keshalihan diri sendiri dan keluarga. Dan, yang terpenting lagi, menikah dan berkeluarga ialah wujud syukur kita atas nikmat dari Allah Swt.

Dengan menikah dan berkeluarga, kita seolah sedang bersyukur atas nikmat dari Allah berupa organ reproduksi yang dijalankan sesuai kodrat, sehingga terjadi pertumbuhan generasi Islam secara halal.

Ingat, bahwa Allah memberikan segala nikmat-Nya agar manusia pandai bersyukur. Karena dengan menikah kita sedang beribadah pada Allah dan dengan berkeluarga juga kita akan menjadi manusia yang kuat-teguh-kokoh dalam mengaktualkan rasa cinta secara suci dan murni.