Notification

×

Iklan

Iklan

Hoaks di Tengah Pandemi, Masyarakat Jangan Mudah Percaya Informasi dari Media Sosial

Kamis, Juli 29, 2021 | 15:08 WIB Last Updated 2021-09-15T16:39:20Z


NUBANDUNG
– Harus diakui bahwa selama pandemi Covid-19 banyak hoaks yang bertebaran di media sosial. Bahkan hoaks yang sangat meresahkan tersebut sudah masuk ke ruang-ruang privat.


Masyarakat yang kemampuan literasinya lemah, tentu akan rentan menjadi korban hoaks-hoaks tersebut. Sehingga akhirnya akan menimbulkan dan menyebarkan keresahan-keresahan baru di tengah masyarakat yang kondisinya sedang kurang bagus karena masih dalam keadaan pandemi Covid-19.


Mengenai hoaks tentang Covid-19 dan vaksin yang masih merajalela di tengah-tengah masyarakat, Katua Program Studi Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Bandung (KPI UMBandung) Syarif Sahidin membagikan pandangannya terhadap masalah tersebut. 


Menurut Syarif, dengan kondisi masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja seperti ini, ditambah dengan maraknya hoaks, khususnya di media sosial, masyarakat harus lebih kritis dan cerdas dalam menerima informasi apa pun. Jangan langsung main sebar saja.


"Perlu adanya cek and ricek ketika menerima sebuah informasi untuk memastikan kebenarannya. Hoaks yang beredar kan mengenai vaksin ini di antaranya ada efek atau gejala sakit yang timbul setelah di vaksin. Kemudian isu penanaman chip-lah ke dalam tubuh orang yang divaksin. Nah yang paling ramai mengenai status dari kehalalan dari vaksin tersebut. Padahal sudah jelas bahwa vaksin itu aman, kemudian vaksin adalah sebuah upaya pencegahan dari virus corona,” kata Syarif, Kamis (29/07/2021).


Hal yang paling penting, ujar Syarif, vaksin itu halal sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Begitu juga menurut ormas-ormas Islam di Indonesia. ”Kita harus saring dulu kalau mendapat sebuah informasi sebelum sharing kepada orang lain,” ujar Syarif.


Pengaruh hoaks


Syarif menilai, pengaruh dan dampak hoaks sangat besar kalau hoaks ini terus dibiarkan tanpa ada pencegahan yang tepat. Ada sebagian masyarakat, kata Syarif, yang merasa takut secara berlebihan terhadap Covid-19 dan juga vaksin. 


"Kalau hoaks terus merajalela tanpa adanya pencegahan yang masif, bisa-bisa penyelesaian persoalan Covid-19 yang sedang dihadapi oleh bangsa kita, tidak selesai. Misalnya kalau sebagian masyarakat kita menolak vaksin karena termakan isu hoaks bahwa vaksin itu tidak halal. Sehingga upaya kita semua termasuk juga Muhammadiyah untuk mencegah penyeberan Covid-19 ini akan terhambat,” tutur alumnus UIN Sunan Gunung Djati tersebut.


Syarif menganalisis, pangkal penyebab berita hoaks berkaitan dengan informasi Covid-19 dan vaksin yang masih merajalela, di antaranya adalah ketika sebagian masyarakat kita termakan dengan informasi dan berita yang muncul atau beredar di media sosial. Mereka asal menyebarkan saja.


"Mereka mengonsumsi informasi dan berita tersebut bukan dari media-media arus utama. Saran saya, ketika ada sebuah sebuah informasi muncul di media sosial, jangan dulu percaya sebelum dicek kebenarannya di media arus utama. Hal tersebut penting kita lakukan,” tandas Sayrif.


Peran tokoh masyarakat


Untuk menangkal masifnya penyebaran hoaks, Syarif menilai bahwa peran tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh politik, tokoh digital, dan tokoh-tokoh berpengaruh lainnya, harus lebih tajam serta gencar lagi dalam mengedukasi masyarakat mengenai bahaya hoaks.


Syarif juga menegaskan, saat ini para tokoh di Indonesia sudah bertindak dengan benar. Para ulama Muhammadiyah, khususnya, sudah satu suara dengan pemerintah dalam memberikan edukasi, informasi mengenai bagaimana sikap masyarakat untuk menghindari Covid-19 ini, yakni dengan ajakan hidup sehat, taat terhadap prokes, menghindari kerumunan, dan sebagainya.


"Dan yang paling penting adalah Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam yang lain, selain berupaya memutus mata rantai penyeberan Covid-19 ini, kita juga peduli dengan kondisi masyarakat yang terdampak ekonominya, dengan memberikan bantuan melalui lembaga amil zakatnya,” pungkasnya.

X
X