Cintai Anak-Anak Sepenuh Jiwa

Notification

×

Iklan

Iklan

Cintai Anak-Anak Sepenuh Jiwa

Rabu, 04 Agustus 2021 | 08:34 WIB Last Updated 2022-09-12T03:53:10Z


Anak merupakan perhiasan dalam rumah tangga. Seorang anak, bagi kita ialah wujud dari kecintaan terhadap ego-kedirian. Karena itu, tak heran jika kita selalu membanggakan anak-anak ketika bersilaturahim dengan anggota keluarga. Hal ini logis, karena Allah Swt., berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak,” (QS. Ali Imran [4]: 14). 


Kehadiran seorang anak seumpama permata hati, perhiasan dunia, dan jantung harapan yang bersemayam di jiwa orang tua. Tak hanya itu, orang tua juga kerap menjadikan anak-anaknya sebagai muara cinta. Ini merupakan perasaan yang diciptakan Allah secara fitrah dalam diri manusia.  


Mencintai seorang anak, tidak dilarang oleh Allah, sebab hal ini merupakan sebuah kewajaran. Asalkan luap cinta itu tidak berlebihan. Namun, bila cinta kita berlebihan, tentunya akan melahirkan perasaan kecewa dan sedih, sebab kadangkala harapan tidak sesuai kenyataan. 


Dengan mencintai berlebihan, kita kerap memanjakan anak sehingga mereka menjadi orang yang sombong dan merasa benar sendiri. Dengan mencintai berlebihan juga, kita selalu membela mereka meskipun salah, sehingga ketika dewasa, mereka menjadi orang yang jumawa. 


Seorang anak adalah kebanggaan, sehingga menjadi tanggungjawab kita untuk menempa mereka menjadi orang-orang yang bertakwa. Anak juga adalah amanah dari Allah, sehingga siapa saja yang mampu menjaga amanah-Nya, akan diberikan pahala besar berupa surga-Nya. Kelak di akhirat, kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah atas apa yang telah kita lakukan pada anak-anak. 


Nabi Saw. bersabda, “Siapa saja yang mengasuh (mencintai dan mendidik) dua anak perempuannya hingga dewasa, di hari kiamat aku bersama orang itu seperti dua jari ini.” Beliau menempelkan dua jarinya (jari tengah dan telunjuk).” (HR Muslim). 


Hadis di atas, bukan saja diperuntukan bagi anak-anak perempuan saja. Akan tetapi bagi kita yang memiliki anak laki-laki juga, diwajibkan untuk mengasuh, mendidik, dan mencintai mereka sepenuh jiwa. Apabila kita telah melakukan hal ini, tentunya Allah akan memberikan kunci surga di akhirat kelak. Mereka adalah amanah yang harus dijaga: dipelihara kehidupan mereka di dunia dan nasibnya kelak di akhirat. 


Firman Allah, “Hai orang-orang beriman, jagalah diri kamu dan keluargamu dari sentuhan api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6). 


Supaya kehadiran anak-anak dalam hidup kita menjadi mutiara hati, sejatinya kita memberikan pendidikan akhlak kepada mereka sesuai perkembangan usia. Ajarilah mereka tentang pentingnya menjunjung tinggi akhlak mulia, sehingga ketika kita telah tiada, mereka akan selalu memanjatkan doa keselamatan bagi kita. Utamanya, mereka akan menjadi wasilah untuk kita dalam memasuki surga yang kita idamkan.


Orang tua, dalam perspektif psikologi, ialah orang yang berperan dan lingkungan utama dalam membentuk kepribadian mereka. “Tiap-tiap anak yang dilahirkan pasti dalam keadaan suci, sampai sampai lisannya mampu mengungkapkan keadaannya sendiri. Maka kedua orang tuanya sendiri yang menjadikan apakah sebagai orang yahudi, Kristen atau Majusi.”  (Alhadis). Wallahua’lam