Notification

×

Iklan

Iklan

Guru Juga Manusia Biasa

Minggu, Agustus 01, 2021 | 08:47 WIB Last Updated 2021-09-15T16:39:20Z


Oleh EVA HELVIANA HAFSAH,
Guru SMKN 1 Cikalongkulon


NUBANDUNG - Juli 2007 aku menginjakkan kakiku di tempat ini. Aku tahu tempat ini dari sahabatku yang mengajak untuk melamar ke tempat ini dan syukurnya aku diterima. Masih teringat hari itu bagaimana antusiasnya aku menyambut hari pertama kerjaku di sini. Aku turun dari angkutan umum yang berwarna coklat itu. Berjalan menuju tempat kerja baruku yaitu SMKN 1 Cikalongkulon. Jalan menuju sekolah menanjak dan berkerikil, sebagian masih berupa tanah merah. Namun, aku tidak peduli karena hari itu aku bersemangat ini bekerja di tempat ini.


Sesampainya di sekolah ini, napasku terengah-engah karena perjalanan cukup jauh dan menanjak sehingga membuat berkeringat. Masuk ruang guru disambut guru-guru senior yang sangat ramah. Masih ingat sekali orang yang ramah mengajakku mengobrol adalah Bu Siti dengan Bu Ipah karena pada saat itu yang lain sedang melaksanakan tugas sebagai panitia penerimaan siswa baru.


Seminggu setelah itu, aku baru mulai menjalankan profesiku sebagai guru. Kelas yang pertama adalah kelas BTK yang sekarang menjadi ATU (Agribisnis Ternak Unggas). Pada awal bertemu mereka aku merasa ketakutan, bagaimana tidak karena kelas ini siswanya banyak yang sudah berumur, badannya besar dan tinggi bahkan ada yang berkumis. Pandangan mereka pada awalnya begitu seperti meremehkan karena aku yang kurus dan kecil secara fisik jauh dari mereka. Namun, setelah mengenal mereka dengan baik semuanya menyenangkan.


Aku senang menjadi guru walaupun guru honorer. Gaji yang diterima waktu itu sangat jauh dari kata cukup tapi aku tetap menyukainya. Aku menyukai jika murid-muridku sangat antusias terhadap pelajaranku. Sapaan mereka jika bertemu, “Good morning, Miss” masih selalu teringat walaupun mereka mengucapkannya tidak melihat waktu.


Aku merasa mereka menyukaiku sebagai guru. Setiap akhir pelajaran aku sering mengadakan kuis. Mereka dengan antusias menjawabnya dengan berebut. Aku sering memberikan mereka kuis dan juga lagu ketika aku sedang merasa lelah. Kami menyanyikan lagu-lagu barat bersama dengan riang. Ada beberapa tahun yang sangat berkesan dengan siswa-siswaku pada saat itu.


Tahun 2008 aku mengenal siswa-siswaku yang sangat unik dan lucu. Mereka adalah Deli, Ella, Ai Nurhasanah, Ratna, Yusuf, Dasep, Idang, Aji dan Apip. Mereka berasal dari kelas yang berbeda tetapi mereka sering mengajakku mengobrol. Mengobrol dengan mereka sangatlah menyenangkan karena ada saja hal lucu yang dibuat oleh mereka. Aku mempunyai ide untuk membuat suatu acara hiburan yaitu kabaret. Kabaret adalah drama komedi yang berisi dialog disertai nyanyian dan tingkah laku konyol. 


Peran utama dimainkan oleh Ai Nurhasanah sebagai perempuan kembang desa yang cantik yang menjadi rebutan para pria. Ai dan teman-temannya memerankan tokoh-tokohnya dengan penuh penghayatan sehingga aku sebagai pelatih sekaligus sutradara sering tertawa dengan adegan-adegan yang mereka perankan. Pada saat perpisahan kabaret itu dimainkan. Para penonton sangat antusias. Kabaret tersebut sukses besar menghibur pada saat perpisahan waktu itu.


Tahun 2011-2014 aku menjadi wali kelas untuk kelas XII THP. Masih ingat mereka hanya berjumlah kurang dari 30 siswa. Tiga tahun menjadi wali kelas untuk mereka penuh dengan tantangan. Masih teringat seringnya aku melakukan home visit terhadap siswa yang bernama Egi. Dia adalah siswa yang sangat jarang hadir di sekolah. Sudah sering kali aku mengajak ibunya mengobrol. Egi hampir saja tidak naik kelas namun aku mempertahankannya karena aku yakin akan ada perubahan walaupun sedikit. 


Kelas ini cukup solid karena diketuai oleh Gilang. Gilang sangat dipatuhi oleh teman-temannya. Hal yang paling berkesan dengan mereka adalah pada saat hari ulang tahunku. Mereka berniat memberikan kejutan dengan ber-akting. Aku sebenarnya sudah mengetahui tetapi aku tidak ingin mengecewakan mereka. Ketika mereka ber-akting berkelahi, aku pun sama ber-akting seolah-olah aku kaget dan marah. Ternyata jadi guru kadang harus pintar memainkan drama.


Tahun 2016 aku menjadi wali kelas X AP 2. Kelas ini sangat penuh berjumlah lebih dari 40 siswa. Karakter siswa di kelas ini adalah aktif berbicara tidak hanya perempuan bahkan laki-lakinya juga. Kelas yang diketuai oleh Ramdan ini sangat santai dalam belajar. Kenakalan mereka hanya kenakalan biasa. Pernah pada suatu hari aku marah karena mereka sangat gaduh ketika guru tidak ada di kelas. Mereka berlarian dan menggunakan sapu untuk dijadikan bahan bercanda dengan teman-temannya. 


Aku yang pada saat itu sedang sensitif datang ke kelas dan memarahi mereka, tapi mereka malah tetap gaduh dan memainkan sapu sehingga tidak mendengarkan perkataanku. Aku mengambil sapu itu dan mematahkannya. Entahlah kenapa pada saat itu aku marah, seharusnya sebagai guru bisa menahan emosi tapi aku tidak pernah sampai melakukan pemukulan terhadap siswa-siswaku. Keesokan harinya aku merasa bersalah dan ingin meminta maaf kepada mereka. Ketika masuk ke kelas mereka, keadaan kelas masih kotor. Aku menyuruh petugas piket untuk membersihkan kelas. Salah satu siswa berkata, “Miss sapunya patah, gak bisa dipake”, ucap dia sambil menunjukkan sapu itu. Aku berbalik ke siswa yang lain sambil bertanya, “Siapa yang mematahkan sapu ini, harus tanggung jawab?” Mereka kompak menjawab, “Miss kan yang matahin sapunya kemarin.” Aku merasa malu tapi berusaha menutupinya dengan berkata, “Makanya kalian kalau bercanda jangan keterlaluan, ya udah nanti saya beliin sapu baru”. Mereka tersenyum.


Tahun 2018-2021 aku menjadi wali kelas XII OTKP 3. Pada awalnya mereka berjumlah 41 siswa, namun tiga orang di antaranya memilih pindah sekolah sehingga mereka tinggal 38 siswa. Menjadi wali kelas mereka banyak suka duka yang dialami, banyak tawa, canda, air mata dan drama. Banyak permasalahan yang terjadi tetapi semua bisa diatasi. Sampai pada saat mereka pada saat kita mengalami pandemi Covid-19 sehingga mengharuskan belajar dari rumah. Mereka tetap antusias mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru. 


Kelas yang dipimpin oleh Iyang walaupun dia bukan ketua kelas tetapi jiwa kepemimpinannya terlihat. Iyang Subhan selalu berusaha membuat kelas kompak dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang positif. Iyang lebih dewasa dibandingkan dengan teman-teman seumurannya. Setiap ada yang berulang tahun mereka selalu merayakannya di kelas dengan memberikan ucapan, doa dan juga kue ulang tahun. Siswa yang berulang tahun biasanya mengadakan acara makan-makan di rumahnya dengan mengundang teman-teman sekelasnya. 


Pernah pada saat Iyang ulang tahun, dia sudah menyiapkan nasi liwet untuk teman-teman sekelasnya, tetapi tidak satu pun mereka yang datang karena kesibukan mereka. Tentu saja Iyang kecewa tetapi ia tidak larut dalam kekecewaan. Tahun 2021 mereka lulus walaupun masih dalam keadaan pandemi sehingga pelaksanaan wisuda dilakukan secara virtual.


Itulah beberapa cerita sisi lain menjadi seorang guru. Guru juga manusia yang tidak luput dari salah. Ada pepatah mengatakan bahwa guru itu “digugu dan ditiru”, artinya setiap perbuatan guru harus menjadi contoh yang baik tetapi tidak semua perbuatan guru itu harus dicontoh, hanya hal positif saja yang harus ditiru.

X
X