Dari Takjil ke Ketahanan Ekonomi

Notification

×

Dari Takjil ke Ketahanan Ekonomi

Selasa, 03 Maret 2026 | 05:43 WIB Last Updated 2026-03-02T22:46:05Z




Dari Lapak Sederhana ke Harapan Keluarga


NUBANDUNG.ID -- Setiap sore menjelang magrib, jalan-jalan kecil di berbagai kota di Indonesia berubah wajah. Trotoar, halaman masjid, pinggir pasar, hingga sudut perumahan mendadak ramai oleh lapak-lapak sederhana. Meja kayu, terpal plastik, spanduk seadanya, dan etalase kecil menjadi saksi geliat ekonomi rakyat. 


Di sanalah para penjual takjil dengan berbagai profesi seperti ibu rumah tangga, buruh lepas, pensiunan, mahasiswa, hingga korban PHK menggantungkan harapan hidup selama Ramadhan.


Sebut saja Ibu Siti, warga pinggiran Bandung, yang setiap ramadhan menjajakan kolak pisang, es campur, dan gorengan di depan rumahnya. Modal awal hanya dua ratus ribu rupiah. Namun dalam sehari, ia bisa memperoleh omzet lima ratus hingga tujuh ratus ribu rupiah. “Kalau Ramadhan, rezeki seperti dilapangkan,” tuturnya suatu sore. 


Penghasilan tersebut  bukan untuk gaya hidup, melainkan membayar sekolah anak, cicilan motor, dan kebutuhan dapur. Tidak ada kemewahan. Yang ada hanyalah perjuangan menjaga keberlangsungan keluarga.


Fenomena Ibu Siti adalah cerita  dan  potret ribuan bahkan jutaan pelaku ekonomi mikro pada bulan Ramadhan di Indonesia. Dari Aceh hingga Papua, dari kota besar hingga desa terpencil, Ramadhan menciptakan ruang ekonomi sementara yang sangat hidup. 


Namun, di balik keramaian tersebut, tersimpan pertanyaan penting, apakah ekonomi takjil hanya sekadar musiman? Ataukah bisa menjadi fondasi ketahanan ekonomi keluarga dan umat? Apakah  Ramadhan menghadirkan ruang ekonomi sementara saja padahal  penuh makna bagi masyarakat kecil.


Dalam banyak kasus, pelaku utama ekonomi takjil  berasal dari kalangan perempuan. Ibu rumah tangga  dengan memanfaatkan keterampilan memasak yang dimiliki untuk menghasilkan produk yang diminati masyarakat. 


Kolak, gorengan, es buah, bubur sumsum, hingga aneka kue tradisional menjadi komoditas ekonomi yang lahir dari dapur rumah tangga. Dapur yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai ruang domestik berubah menjadi ruang produksi ekonomi.


Perubahan tersebut  memiliki dampak  signifikan terhadap ketahanan keluarga. Pendapatan tambahan dari usaha kecil sering kali menjadi penopang penting ketika penghasilan utama keluarga mengalami tekanan. 


Lebih dari itu, keterlibatan perempuan dalam ekonomi Ramadhan juga memperkuat rasa percaya diri dan kemandirian. Banyak perempuan yang setelah Ramadhan berani melanjutkan usaha dalam skala yang lebih stabil, seperti membuka usaha katering kecil, menerima pesanan kue, atau menjual makanan secara daring. Dengan demikian, ekonomi Ramadhan tidak hanya menggerakkan pasar, tetapi juga memperluas ruang pemberdayaan perempuan



Ramadhan sebagai Ekosistem Ekonomi Rakyat

Secara sosiologis, Ramadhan menghadirkan ‘pasar temporal’ yang unik. Permintaan terhadap makanan berbuka, sahur, dan oleh-oleh meningkat drastis. Konsumsi rumah tangga melonjak. Aktivitas sosial dan keagamaan memperkuat perputaran uang di tingkat lokal. 


Bagi masyarakat kelas menengah bawah, momentum ini menjadi ‘jendela kesempatan’. Banyak keluarga yang selama sebelas bulan pasif secara ekonomi, tiba-tiba aktif berwirausaha di bulan Ramadhan. Mereka menjadi produsen, distributor, sekaligus pemasar dalam waktu singkat. 


Dalam perspektif manajemen, fenomena ini menunjukkan adanya, a) Fleksibilitas ekonomi rakyat, b) Kreativitas adaptif, c) Modal sosial berbasis komunitas, d) Kepercayaan pelanggan,  dan e) Etos kerja spiritual. Momen Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi menciptakan laboratorium ekonomi umat.


Ramadhan dan Ketahanan ekonomi bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang  bagaimana kemampuan keluarga dan komunitas untuk: 1). Mengelola risiko. 2). Menjaga stabilitas pendapatan. 3). Mengembangkan aset produktif. 4). Membangun tabungan sosial. 5). Memutus rantai kemiskinan. 


Sayangnya, banyak pelaku takjil berhenti pada fase ‘bertahan’. Setelah Ramadhan, usaha kembali mati, karena modal habis dan jaringan putus, serta semangat yang kian  surut.  


Agar takjil tidak berhenti sebagai fenomena musiman, maka  diperlukan strategi antara lain:  a) Digitalisasi sederhana (WA, marketplace lokal). b) Tabungan usaha pasca Ramadhan. c) Diversifikasi produk. d) Pembentukan koperasi komunitas. e) Pendampingan kampus dan pemerintah. 


Dengan berbagai pendekatan dan strategi  sederhana tersebut, maka ekonomi Ramadhan dapat menjadi fondasi ekonomi sepanjang tahun.


Modal Sosial dan Masjid  sebagai Fondasi Ketahanan Ekonomi

Salah satu kekuatan utama ekonomi takjil adalah keberadaan modal sosial. Berbeda dengan bisnis besar yang bergantung pada modal finansial dan teknologi tinggi, usaha kecil di bulan Ramadhan sering kali bertumpu pada jaringan sosial yang sederhana. 


Tetangga membantu mempromosikan dagangan. Teman merekomendasikan kepada pelanggan baru. Jamaah masjid membeli sebagai bentuk dukungan. Bahkan tidak jarang terjadi praktik saling membeli antar pedagang. Interaksi semacam ini membentuk hubungan ekonomi yang berbasis kepercayaan. 


Dalam ilmu ekonomi kelembagaan, kondisi tersebut dikenal sebagai trust-based economy, yaitu sistem ekonomi yang bertumpu pada kepercayaan sosial.


Kepercayaan memiliki dampak ekonomi yang besar. Ketika masyarakat saling percaya, biaya transaksi menjadi lebih rendah. Tidak diperlukan kontrak rumit atau pengawasan yang ketat. Hubungan bisnis berjalan secara lebih efisien karena dilandasi oleh reputasi dan integritas. 


Ramadhan memperkuat kondisi tersebut. Nilai kejujuran, empati, dan kepedulian sosial yang tumbuh selama bulan suci menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih sehat


Fondasi ketahanan ekonomi lainnya  adalah masjid, tidak hanya menjadi  pusat ibadah, tetapi juga pusat ekonomi umat. Lapak-lapak takjil di halaman masjid, koperasi syariah, bazar Ramadhan, hingga program zakat produktif menjadi simpul ekonomi komunitas. 


Jika dikelola secara profesional, masjid dapat berperan menjadi:  1) Inkubator UMKM, 2) Pusat pelatihan wirausaha. 3) Lembaga pembiayaan mikro. 4) Hub distribusi sosial.  Masjid menjadi  wadah dan tempat dalam bentuk konkret yang mengintegrasikan nilai  spiritualitas dan produktivitas secara alami.


Ketahanan yang Lahir dari Ketulusan

Pada akhirnya, ekonomi Ramadhan menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi tidak selalu lahir dari struktur yang besar dan kompleks. Pun dari ruang-ruang kecil yang sederhana sering kali muncul energi ekonomi yang luar biasa. 


Lapak takjil di pinggir jalan menjadi simbol ketekunan masyarakat dalam menghadapi tekanan ekonomi. Dari aktivitas yang tampak sederhana tersebut, terbentuk jaringan produksi, distribusi, dan konsumsi yang melibatkan banyak pihak.


Jika dikelola dengan pendekatan manajemen berbasis nilai yakni  kejujuran, amanah, solidaritas, dan tanggung jawab sosial, maka ekonomi Ramadhan dapat berkembang menjadi fondasi ketahanan ekonomi Masyarakat yang kuat. 


Dari meja kecil tempat kolak dan gorengan dijajakan, lahir pelajaran penting tentang kemandirian. Dari interaksi sederhana antara penjual dan pembeli, tumbuh kepercayaan sosial yang memperkuat ekonomi komunitas. Ramadhan pada akhirnya bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga momentum untuk menumbuhkan ekonomi yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berkelanjutan.


Ramadhan juga  mengajarkan bahwa ekonomi yang kuat bukan hanya soal laba, tetapi tentang martabat, keberlanjutan, dan keberkahan. Dari takjil, kita belajar tentang daya tahan. Dari nilai, kita membangun masa depan. Wallahu’ a’lam bis showaab 


Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA.

Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung