Nikmati Keseruan Belajar Teologi Lingkungan Ala Mahasiswa UIN Bandung di Pesantren Ath Thaariq

Notification

×

Iklan

Iklan

Nikmati Keseruan Belajar Teologi Lingkungan Ala Mahasiswa UIN Bandung di Pesantren Ath Thaariq

Rabu, 29 Mei 2024 | 11:00 WIB Last Updated 2024-05-29T04:00:00Z

 



NUBANDUNG.ID -- Sebanyak 102 mahasiswa jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan kuliah lapangan ke Pesantren Ekologi Ath Thaariq Garut, Selasa (28/5/2024).


Kuliah teologi lingkungan yang bermuatan praktis ini menjadikan para mahasiswa belajar mengimplementasikan bagaimana pelestarian lingkungan, termasuk memahami teori terkait lingkungan dalam sudut pandang teologi Islam.


Berangkat menggunakan dua bis kampus pada pukul 07.00 WIB dan sampai di pesantren pukul 09.30. Acara yang digelar berupa talkshow dengan menghadirkan tiga narasumber: Nyai Nissa Saadah Wargadipura, pengasuh Pondok Pesantren Ekologi Ath Thaariq, Rachminawati, SH., MH., Ph.D founder Garut Zero Waste dan Dr. Neng Hannah, dosen pengampu mata kuliah teologi lingkungan.


Dalam pemaparannya, Nyai Nissa menyampaikan bagaimana latar belakang dan sejarah berdirinya Ath Thaariq yang menjadikan semangat Islam rahmatan lil alamin. “Green Islam sebagai paradigma utamanya bersumber dari al-Quran, Hadis, Aqwal Ulama dan Ijtima,” tegas Nyai dalam keterangannya, Rabu (29/5/2024).


Nyai Nissa merupakan salah satu dari 11 tokoh inspiratif Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) mendirikan pesantren Ath Thaariq ini dengan perjuangan yang berliku.


Dimulai dari mendirikan Serikat Petani Pasundan (SPP) yang memberi kritik pada program Revolusi Hijau. “bersama suaminya pada tahun 2008 mengorganisir laboratorium alam dengan pendekatan holistic yang diwujudkan dalam bentuk pesantren ekologi Ath Thaariq,” jelasnya.


Pesan Nyai Nissa untuk mahasiswa AFI semester 6 sebagai gen Z untuk mengimplementasikan pengetahuan yang sudah didapat dari mata kuliah teologi lingkungan dengan memulai dari tubuh terutama makanan yang dikonsumsi. “Makanan sangat terkait dengan kondisi psikis dan mental seorang manusia. Makanan instan hari ini menjadikan gangguan Kesehatan mental serius dikalangan gen-Z,” tuturnya.


Narasumber kedua, Rachminawati menjelaskan bagaimana ia dan 5 orang lainnya mendirikan Garut Zero Waste yang berangkat dari keresahan sampah di Garut yang tidak terkelola dengan baik. “Tumpukan sampah pada ahirnya menjadi masalah yang cukup pelik,” paparnya.


Caranya dengan mengubah gaya hidup dari rumah untuk mempersedikit sampah yang dihasilkan, mengelola menjadi hal yang tidak bisa ditawar demi kelangsungan hidup generasi mendatang.


Diakuinya, selain permasalahan dari hulu, sumber sampah. Untuk di hilir bagaimana melakukan pengolahan agar sampah menjadi berguna dengan reduce, reuse, dan recycle, hingga pada ahirnya memberdayakan secara ekonomi melalui bank sampah. “Hal terpenting lainnya adalah men-share hal baik yang sudah dilakukan di media sosial agar semakin banyak orang yang terinspirasi,” tandasnya.


Pemateri terahir, Neng Hannah menjelaskan bahwa mata kuliah teologi lingkungan ini sudah disajikan selama 8 tahun di AFI UIN Bandung. “Berawal dari keresahan dari seringnya banjir di Bandung Timur, sampah yang menjadi masalah yang sulit diselesaikan, kemacetan karena jumlah kendaraan tidak terkendalikan yang menjadikan udara di Cibiru semakin buruk juga permasalahan lingkungan yang lain,” bebernya.


Tahun 2008 Neng Hannah sudah mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat RESIC (Research of Environment and Self Independent Capacity) di Cibiru Bandung dan banyak melakukan edukasi pada mahasiswa UIN dan SMA di Bandung sampai tahun 2012. “Terhenti karena kesibukan kuliah S3 dan baru kembali bergerak setelah mengikuti Kongres Ulama Perempuan Indonesia ke 1 pada tahun 2017 yang salah satu fatwanya adalah pelestarian lingkungan hidup,” kenangnya.


Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan memunculkan oleh pertanyaan-pertanyaan kritis dari para mahasiswa atas teori lingkungan sampai tindakan praktis yang dilakukan oleh ketiga narasumber. Paling tidak ada tiga pertanyaan yang disampaikan oleh para mahasiswa itu, “Bagaimana awal mula terjadinya kerusakan lingkungan? Kegiatan apa saja yang dilakukan oleh pesantren Ath Thaariq dalam memberdayakan lingkungan? Bukankah kita memberdayakan lingkungan hidup itu ujung-ujungnya adalah untuk manusia sendiri?”.


Setelah talkshow semua yang hadir menikmati makan siang dengan sumber karbohidrat dari umbi-umbian yang disajikan dengan sayur lodeh nikmat. Sayuran segar dari kebun Ath Thaariq seperti daun mint, daun antanan, daun pohpohan, kenikir, kemangi juga melangkapi tahu dan berbagai peacefood lainnya. Kegiatan ini berlangsung sampai pukul 16.00.