Saat Isra Mi'raj Menegur Krisis Ekologi, Intoleransi, dan Disrupsi Digital!

Notification

×

Iklan

Iklan

Saat Isra Mi'raj Menegur Krisis Ekologi, Intoleransi, dan Disrupsi Digital!

Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:48 WIB Last Updated 2026-01-17T12:48:06Z




NUBANDUNG.ID -- Setiap peradaban besar selalu memiliki momen simbolik yang berfungsi sebagai cermin kritik bagi zamannya. Dalam tradisi Islam, Isra’ Mi’raj bukan sekadar peristiwa spiritual yang diperingati secara ritualistik, melainkan narasi profetik yang menyimpan daya gugah untuk membaca arah sejarah manusia. 


Namun di tengah percepatan modernitas, krisis ekologis global, menguatnya intoleransi keagamaan, serta disrupsi digital yang kian tak terkendali, Isra’ Mi’raj kerap direduksi menjadi seremoni tahunan yang kehilangan daya transformatifnya.


Ironi inilah yang menuntut pembacaan ulang. Ketika bumi mengalami kerusakan ekologis yang masif, ruang sosial dipenuhi polarisasi identitas, dan ruang digital berubah menjadi arena produksi kebencian serta disinformasi, agama semestinya hadir sebagai sumber etika pembebasan, bukan sekadar simbol kesalehan individual. 


Dalam konteks ini, Isra’ Mi’raj, dengan dimensi kosmik, kemanusiaan, dan spiritualnya, menyuguhkan kritik mendalam terhadap cara manusia modern memaknai kemajuan, keberagamaan, dan otoritas pengetahuan.


Tulisan ini berangkat dari kesadaran bahwa Isra’ Mi’raj perlu ditempatkan dalam horizon problematika kontemporer. Dengan pendekatan reflektif-kritis, Isra’ Mi’raj dibaca sebagai pesan profetik yang menegur krisis ekologi, mengoreksi praktik intoleransi, serta memberi arah etik bagi transformasi digital dan pendidikan tinggi. 

Dengan demikian, Isra’ Mi’raj tidak berhenti sebagai kisah agung masa lalu, melainkan menjadi energi moral untuk menata masa depan peradaban yang lebih adil, beradab, dan berkelanjutan.


Isra’ Mi’raj dan Krisis Ekologi : Kritik atas Kesalehan yang Terputus

Dari perspektif ekoteologi, Isra’ Mi’raj menegaskan bahwa alam semesta bukan ruang kosong tanpa nilai, melainkan bagian dari tatanan ilahi. Perjalanan Nabi Muhammad SAW melintasi ruang kosmik mengisyaratkan bahwa relasi manusia dengan alam bersifat sakral, bukan eksploitatif. Alam bukan objek penaklukan, melainkan amanah yang harus dijaga.


Ironisnya, di tengah krisis iklim, bencana ekologis, dan kerusakan lingkungan yang kian masif, kesalehan beragama sering kali terputus dari kesadaran ekologis. Ritual dijalankan, tetapi alam terus dirusak; doa dipanjatkan, tetapi 

eksploitasi tak dibendung. Isra’ Mi’raj mengkritik kesalehan semacam ini dan menuntut lahirnya keberagamaan yang ekologis iman yang terwujud dalam tanggung jawab menjaga bumi sebagai titipan Tuhan. 


Moderasi Beragama : Menolak Intoleransi dan Politik Kebencian

Isra’ Mi’raj juga menyimpan pesan kuat tentang moderasi beragama. Peristiwa ini menghubungkan dua ruang suci yang sarat sejarah dan keragaman: Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Pesan simboliknya jelas agama tidak diturunkan untuk membangun sekat kebencian, melainkan untuk merajut kemanusiaan. Namun realitas hari ini menunjukkan kecenderungan sebaliknya. Agama kerap direduksi menjadi identitas eksklusif, mudah dipolitisasi, dan dijadikan legitimasi intoleransi. 


Dalam konteks ini, Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik keras terhadap keberagamaan yang ekstrem, sempit, dan anti-dialog. Moderasi beragama bukan sikap kompromistis terhadap akidah, melainkan keberanian moral untuk bersikap adil, proporsional, dan beradab di tengah perbedaan.


Disrupsi Digital : Lompatan Tanpa Kedalaman Etis

Makna Isra’ Mi’raj juga menemukan relevansinya dalam transformasi digital. Perjalanan Nabi yang melampaui batas ruang dan waktu dapat dibaca sebagai metafora lompatan peradaban. Namun kemajuan teknologi hari ini justru melahirkan paradoks: informasi melimpah, tetapi kebijaksanaan menipis; konektivitas meningkat, tetapi empati sosial melemah. Ruang digital dipenuhi ujaran kebencian, hoaks keagamaan, dan klaim otoritas keilmuan yang dangkal. 


Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa setiap lompatan kemajuan harus disertai kedalaman spiritual dan tanggung jawab etis. Tanpa itu, transformasi digital hanya akan mempercepat degradasi moral, bukan pencerahan peradaban.


Pendidikan Tinggi dan Tanggung Jawab Profetik

Dalam konteks pendidikan tinggi, pesan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi dasar kritik terhadap arah pembangunan akademik. Perguruan tinggi tidak cukup 

hanya mengejar peringkat, akreditasi, dan luaran kuantitatif, sementara kepekaan etis, ekologis, dan sosial terpinggirkan.


Pendidikan tinggi terutama perguruan tinggi keagamaan dituntut melahirkan intelektual yang tidak hanya cakap secara teknologis, tetapi juga memiliki integritas moral, kesadaran lingkungan, dan komitmen kebangsaan. Tanpa integrasi nilai spiritual, pendidikan tinggi berisiko menjadi mesin reproduksi krisis, bukan solusi peradaban.


Isra’ Mi’raj sebagai Momentum Evaluasi Peradaban

Dengan demikian, Isra’ Mi’raj adalah momentum evaluasi kolektif. Ia menantang umat beragama, institusi pendidikan, dan negara untuk menata ulang orientasi pembangunan: dari yang semata-mata material menuju yang berkeadaban; dari kesalehan simbolik menuju kesalehan sosial dan ekologis; dari kemajuan teknologis tanpa arah menuju transformasi digital yang beretika.


Jika Isra’ Mi’raj terus diperingati tanpa keberanian reflektif dan komitmen perubahan, ia akan kehilangan makna transformatifnya dan terjebak sebagai seremoni rutin yang hampa. Padahal, Isra’ Mi’raj adalah pesan profetik yang terus hidup dan menuntut aktualisasi etis dalam konteks zaman yang selalu berubah. 


Di tengah krisis ekologi yang mengancam keberlanjutan bumi, menguatnya intoleransi yang meretakkan kohesi sosial, serta disrupsi digital yang kerap melampaui kendali etika, Isra’ Mi’raj hadir sebagai kritik spiritual atas arah peradaban yang kehilangan keseimbangan antara kemajuan dan kemanusiaan. 


Kesalehan tidak boleh berhenti pada ritual, tetapi harus menjelma menjadi tanggung jawab ekologis, keberpihakan pada kemanusiaan, serta kecakapan etis dalam memanfaatkan teknologi.


Moderasi beragama, kesadaran ekologis, dan literasi digital berbasis nilai spiritual bukanlah agenda tambahan, melainkan inti dari keberagamaan yang berkeadaban. Tanpa integrasi nilai-nilai tersebut, agama berisiko tereduksi menjadi simbol identitas yang rapuh dan mudah diperalat oleh kepentingan sempit. 


Oleh karena itu, peringatan Isra’ Mi’raj seharusnya menjadi ruang refleksi kritis sekaligus komitmen kolektif untuk melakukan perubahan nyata. Hanya dengan cara itulah Isra’ Mi’raj dapat berfungsi sebagai sumber inspirasi transformatif bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan fondasi spiritual bagi pembangunan  peradaban yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Ibrahim Nur A, Akademisi UIN Sunan Gunung Djati Bandung