NUBANDUNG.ID -- Tulisan ke-26 Edisi Ramadan. Kisah sahabat Nabi kali ini, seorang tajir-melintir yang tidak pelit. Suka sedekah lagi. Bagi yang punya harta, merasa paling tajir, ada baiknya baca kisah ini. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Sejarah kadang terasa seperti panggung teater raksasa. Ada tokoh yang masuk dengan sandal jepit, keluar dengan rekening Swiss. Ada pula yang masuk dengan iman, keluar dengan surga. Salah satu tokoh jenis kedua itu bernama Abdurrahman bin Auf RA, sahabat Nabi yang jika hidup di zaman sekarang kemungkinan besar sudah jadi trending topic LinkedIn setiap minggu, “Entrepreneur sukses, investor halal, filantropis kelas wahyu.”
Nama lengkapnya panjang seperti daftar silsilah bangsawan. Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Ka’ab bin Lu’ay al-Qurasyi az-Zuhri. Ia lahir di Makkah sekitar tahun 581 M, kira-kira sepuluh tahun lebih muda dari Muhammad SAW. Nama aslinya sebenarnya Abdu Amr, versi lain menyebut Abdul Ka’bah, nama yang sangat khas era sebelum Islam ketika manusia kadang lebih rajin menyembah simbol dari Tuhan. Setelah memeluk Islam, Nabi mengganti namanya menjadi Abdurrahman, hamba Sang Maha Pengasih. Upgrade spiritual level dewa.
Ia termasuk delapan orang pertama yang masuk Islam. Nuan bayangkan situasinya. Makkah saat itu bukan tempat ramah untuk mualaf. Tidak ada talkshow toleransi, tidak ada seminar pluralisme, yang ada justru paket lengkap, intimidasi, boikot ekonomi, dan penyiksaan. Namun Abdurrahman tetap bergabung dengan barisan awal yang dikenal sebagai As-Sabiqunal Awwalun. Ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq RA, lalu bersama sahabat lain seperti Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa’d bin Abi Waqqas menghadapi tekanan Quraisy. Jika hari ini orang takut kehilangan kursi jabatan karena beda pendapat politik, generasi ini justru siap kehilangan nyawa demi iman.
Tekanan itu membuatnya dua kali hijrah ke Habasyah, lalu hijrah lagi ke Madinah. Di Madinah terjadi salah satu adegan paling legendaris dalam sejarah ekonomi Islam. Nabi mempersaudarakannya dengan sahabat Anshar bernama Sa’d bin ar-Rabi’. Sa’d menawarkan separuh hartanya, bahkan menawarkan salah satu istrinya untuk dinikahi setelah dicerai secara baik. Tawaran yang jika muncul di drama Korea mungkin akan langsung viral tiga musim. Abdurrahman menjawab kalimat sederhana yang menjadi legenda bisnis, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Tunjukkan saja pasar kepadaku.”
Ia datang ke pasar Bani Qainuqa’ tanpa modal besar. Ia mulai berdagang aqith (keju susu olahan) dan samin (mentega). Tidak ada startup pitch deck, tidak ada investor venture capital, tidak ada subsidi negara. Hanya kejujuran, kerja keras, dan keberkahan. Bisnisnya melejit cepat. Ia bahkan pernah berkata dengan nada percaya diri yang sangat pedagang, “Jika aku mengangkat sebuah batu, aku berharap di bawahnya ada emas atau perak.” Riwayat ini dicatat dalam karya klasik seperti At-Tabaqat al-Kubra karya Ibnu Sa’d serta kitab-kitab biografi sahabat seperti Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah karya Ibnu Hajar al-Asqalani dan Siyar A’lam an-Nubala’ karya Adz-Dzahabi.
Kekayaannya luar biasa. Sebagian hartanya saja ketika wafat bernilai puluhan ribu dinar, setara ratusan miliar rupiah masa kini. Ia memiliki banyak istri dan sekitar 20–30 anak menurut berbagai riwayat. Kehidupannya tetap sederhana. Pakaiannya sering tidak bisa dibedakan dari pakaian budaknya. Kontras dengan sebagian elite modern yang baru dapat jabatan setingkat kepala dinas sudah berubah seperti sultan parkiran.
Namun bagian paling epik dari hidup Abdurrahman bukanlah kekayaannya, melainkan cara ia menghabiskan kekayaan itu. Ia pernah menyedekahkan separuh hartanya, 4.000 dinar dari total 8.000 dinar. Lalu menyedekahkan lagi 40.000 dinar. Ia membiayai 500 kuda dan 500 unta untuk jihad, terutama dalam ekspedisi seperti Perang Tabuk. Ia menjual tanah seharga 40.000 dinar lalu membagikannya kepada fakir miskin Bani Zuhrah, kaum yang membutuhkan, serta istri-istri Nabi. Mendengar itu, Aisyah binti Abu Bakar RA sampai berdoa, “Semoga Allah memberi minum Abdurrahman dari minuman surga.”
Ia juga mewasiatkan 400 dinar untuk setiap veteran Perang Badar, membebaskan ribuan budak. Ada riwayat menyebut sekitar 3.000 dalam satu kesempatan, dan terus menginfakkan hartanya. Ironisnya, ia justru sering takut hartanya menjadi penghalang surga. Suatu hari ia menangis saat melihat makanan berbuka puasa. Ia berkata, Mush’ab bin Umair dan Hamzah lebih mulia darinya tetapi wafat dengan kafan yang sangat sederhana. Kekhawatiran itu membuatnya terus menyedekahkan harta seakan-akan dompetnya memiliki lubang spiritual.
Ia juga menolak tawaran menjadi khalifah dua kali. Dalam majelis syura enam orang yang dibentuk oleh Umar bin Khattab RA, Abdurrahman menjadi tokoh kunci yang akhirnya memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah. Jika standar politik seperti ini dipakai hari ini, orang kaya menolak jabatan, lebih suka menjadi penasihat dari penguasa. Beberapa politisi mungkin langsung pingsan mendengarnya.
Abdurrahman bin Auf wafat sekitar tahun 31 atau 32 H (652–653 M) pada usia sekitar 72–75 tahun. Ia dimakamkan di Baqi’ setelah disalatkan oleh Utsman bin Affan. Sebelum wafat ia masih sempat mewasiatkan sedekah besar, 50.000 dinar, 100 unta, 3.000 kambing, 100 kuda, dan tanah pertanian untuk jihad serta fakir miskin.
Kisahnya seolah menampar zaman. Dunia modern sering memperdebatkan apakah orang kaya itu pasti serakah. Abdurrahman bin Auf menjawab dengan elegan, kekayaan tidak masalah, selama hati tidak ikut dimiliki oleh harta. Prinsip itu selaras dengan pesan Alquran, manusia tidak akan mencapai kebajikan sempurna sebelum menafkahkan harta yang dicintainya. Pada titik ini, Abdurrahman tidak hanya berdagang di pasar Madinah. Ia berdagang dengan akhirat. Keuntungannya? Surga.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
