Biografi Ibn Sina: Mulianya Jomblo Berilmu

Notification

×

Iklan

Iklan

Biografi Ibn Sina: Mulianya Jomblo Berilmu

Sabtu, 29 Mei 2021 | 08:37 WIB Last Updated 2022-09-12T03:53:11Z

Sebagai manusia, tidak dipungkiri kita memiliki hasrat yang sangat besar terhadap lawan jenis. Ketertarikan kita semakin tinggi ketika melihat hal-hal yang indah, hingga melahirkan kecintaan. Terkadang kecintaan yang kita miliki melahirkan keterlenaan dalam hidup, hingga waktu dan amal saleh menjadi sia-sia tiada bermakna.

Hasrat bercinta adalah anugerah dari Allah yang diberikan kepada setiap makhlukNya. Namun sebagai manusia yang memiliki akal dan pikiran, kita harus pandai menggunakannya. Jangan sampai cinta suci kita ternodai oleh perbuatan yang haram, yang tidak berdasarkan tuntunan Ilahi.

Sebagai pemuda pemudi harapan bangsa, kita harus pandai memanfaatkan waktu kita. Jangan sampai waktu kita dihabiskan dengan hal yang sia-sia tanpa mengantarkan kita ke arah perubahan yang lebih baik. Gunakanlah waktu kita kepada hal yang bermanfaat, salahsatunya menuntut ilmu. Menuntut ilmu bisa mendekatkan diri kita kepada Allah Swt, agar hawa nafsu bisa dikendalikan.

Hasrat yang besar kepada lawan jenis, namun belum jiwa dan raga belum mampu untuk menikah, maka lupakanlah dia. Sibukkanlah diri kita dengan terus mendekatkan diri kepada Allah Swt dan menuntut ilmu.

‘Bukanlah kebaikan itu dengan banyaknya harta dan anak, tetapi dengan banyaknya ilmu, besarnya kesabaran mengungguli orang lain dalam ibadahnya, apabila berbuat kebaikan ia bersyukur dan bila berbuat salah (dosa) ia beristighfar kepada Allah Swt’ [Ali bin Abi Thalib]

Meski jomblo, jadilah pribadi mulia dengan berilmu. Seperti Ibnu Sina yang menyibukkan diri sedari muda dengan menuntut ilmu dan menebar manfaat.

Seorang lelaki bernama Syeikh Rais, Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina yang dikenal dengan nama Ibnu Sina atau Avicenna dalam dunia barat, lahir pada tahun 370 Hijriyah/ 980 Masehi di Khormeisan, Bukhara (Uzbekistan).

Ia berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah, yang sudah sangat akrab dengan pembahasan ilmiah yang disampaikan ayahya. Karenanya, Ibnu Sina memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dan menonjol. Sehingga salah seorang guru menasihati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun dalam dunia pekerjaan, kecuali belajar dan menimba ilmu.

Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak llmu. Pada usia 8 tahun, Ibnu Sina berinisiatif membeli buku metafisika Aristoteles karya al-Farabi seharga 3 dirham. sehingga hal ini melahirkan ketertarikannya terhadap hakikat dan memahami metafisika serta semua filsafat Aristoteles. Buku yang dibelinya, sangat mempengaruhi kehidupannya. Dalam usia 10 tahun, ia sudah menghapal al-Qur’an.

Meski berusia muda, setelah mendalami ilmu-ilmu alam dan ketuhanan, Ibnu Sina tertarik mempelajari ilmu kedokteran. Pada usia 18 tahun dia sudah mahir dalam bidang kedokteran dan membuatnya terkenal. Sehingga Raja Bukhara, Nuh bin Mansur yang memerintah tahun 367-387 Hijriyah, memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya saat jatuh sakit. Sejak itu, Ibnu Sina akrab dengan raja dan leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar, berisi semua buku yang tidak pernah dibaca dan dilihat oleh kebanyakan orang. Ibnu Sina memanfaatkan perpustakaan tersebut.

Selama di istana, Ibnu Sina sibuk di dunia politik dan menjadi menteri. Namun jabatannya di pemerintahan hanya sebentar. Kinerja Ibnu Sina di pemerintahan sangat bagus, sehingga banyak yang tidak menyukainya. Akibatnya, dia dipenjara selama 4 bulan karena fitnah lawan-lawan politiknya. Selama dipenjara, produktivitasnya semakin meningkat.  Ia banyak menulis dan melahirkan karya. Maka, setelah bebas dari penjara. Ia memutuskan untuk keluar dari dunia politik dengan mengembara hanya berbekal pakaian yang melekat di badan sedikit uang dan setumpuk buku.

Ibnu Sina melahirkan karya tulis diperkirakan sebanyak 250 judul. Karya-karya Ibnu Sina yang terkenal antara lain, dalam filsafat ensiklopedi Al-Shifa (18 jilid, membahas banyak cabang ilmu, mulai dari ilmu metafisika, geometri, musik, medis, fisika, filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat), An-Najah (tentang kebahagian jiwa), Al-Musiqa (tentang musik), Al-Inshaf (tentang keadilan sejati), Al-Isyarat. Karyanya yang terkenal dalam bidang kedokteran adalah al-Qanun fit Thibb). Kitab-kitab tersebut hingga saat ini masih menjadi bahan telaah dan rujukan utama yang paling otentik.

Selain itu, Ibnu Sina juga menulis sejumlah esai dan syair, serta karangan pendek yang dinamakan maqallah. Beberapa essainya yang terkenal antara lain: Hayy ibn Yaqzhan, Risalah Ath-Thair, Risalah fi Sirr Al-Qadar, Risalah fi Al-‘Isyq dan Tashil As Sa’dah. Sedangkan beberapa karya puisinya, yaitu: Al-Urjuzah fi Ath-Thibb, Al-Qasidah Al-Muzdawiyyah dan Al-Qasidah Al-‘Ainiyyah.

Ibnu Sina menguasai berbagai bidang ilmu. Dalam bidang kedokteran, Ibnu Sina telah membahas kanker, tumor, diabetes dan efek palcebo. Di bidang psikologi sebagai pelopor psikofisiologi, psikomatik dan neuropsikiatri. Juga membahas halusinasi, insomnia, demenia, vertigo dan lainnya. Di bidang Fisika dia adalah penemu termometer, yang selalu digunakan di setiap penelitiannya untuk mengukur udara sekitar. Di bidang Kimia, ia menemukan teknik destilasi uap untuk mengekstral minyak Atsiri dari herbal dan rempah-rempah. Di bidang mekanika, ia telah menjelaskan teori momentum dan inersia.

Ibnu Sina juga menguasai ilmu hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya, juga berbagai ilmu lainnya.Selain itu ia juga menerjemahkan karya Aqlidees dan menjalankan observatorium ilmu perbintangan. Ibnu Sina juga memberikan sumbangsih hasil penelitian dalam masalah energi, berupa ruang hampa, cahaya dan panas. Ibnu Sina menjadi seorang ilmuwan yang multi talented.

Sebagai ilmuwan, Ibnu Sina adalah seorang workacholic. Di siang hari, ia menghabiskan waktunya dengan melakukan penelitian di laboratorium, mengajar atau menangani pasien. Dan malamnya, ia akan belajar, menulis buku atau jurnal. Sifat Workacholicnya ini sering mendapat teguran dari teman-temannya yang menghawatirkan kesehatan. Ibnu Sina menjawab, “Lebih baik baik aku berusia pendek namun penuh makna dan karya daripada diberi umur panjang yang hampa”.

Sifat workacholicnya Ibnu Sina membawa dampak buruk baginya. Menurut sekretarisnya, al-Jauzakani, Ibnu Sina wafat karena kelelahan. Ibnu Sina wafat tahun 428 Hijriyah/ 1037 Masehi pada usia 58 tahun, dan dikuburkan di Hamazan.

Sampai akhir hayatnya, Ibnu Sina tidak pernah menikah. Ia mendahulukan ilmu diatas segalanya. Sumbangsihnya sangat besar sepanjang khazanah keilmuan umat Islam, sehingga namanya selalu dikenang sepanjang sejarah. Karena konsentrasinya di bidang kedokteran, Ibnu Sina dikenal sebagai bapak pengobatan modern.

Lihatlah mereka yang berani dengan pilihan hidupnya demi mencapai ridha Allah. Disaat kebanyakan orang masa mudanya disibukkan dengan bersenang-senang dan kehidupan dunia lainnya, mereka memilih mewakafkan jiwa dan tenaga untuk kemaslahatan umat melalui ilmunya.Tujuannya demi meraih kebahagiaan sejati dan cinta hakiki.

So, jangan sedih meski jomblo! Tuntutlah ilmu...hingga nyawa penghabisan.