Mitologi Batu Cinta di Situ Patenggang

Notification

×

Iklan

Iklan

Mitologi Batu Cinta di Situ Patenggang

Minggu, 16 Mei 2021 | 08:46 WIB Last Updated 2021-09-15T16:39:20Z

NUBANDUNG 
Sebagian masyarakat ada yang percaya bahwa tempat-tempat wisata memiliki cerita-cerita legenda yang kebenarannya kadang-kadang sulit dibuktikan.

Namun, membaca legenda atau mitologi yang menjadi kearifan lokal objek wisata tidak ada salahnya. Salah satunya mitologi yang mengiringi objek wisata Situ Patenggang yang berada di kawasan Kabupaten Bandung.

Penasaran bagaimana legenda atau mitologi yang banyak dipercaya di Situ Patenggang? Simak ulasannya yang dikutip dari lengsapena.id berikut.

Situ Patenggang adalah sebuah danau yang terletak di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Danau ini memiliki pemandangan yang sangat eksotik.

Batu-batu berukuran besar di hampir setiap bibir danau menjadi ciri khas danau seluas 48 hektare tersebut. Tampak juga batu yang disebut dengan Batu Cinta.

Batu Cinta berada di pulau yang berbentuk hati, yaitu Pulau Asmara atau Pulau Sasaka. Di situlah terdapat sebuah replika perahu berukuran besar.

Perahu ini diyakini menggambarkan kisah percintaan seorang tokoh legenda tempo dulu di daerah tersebut, yaitu Ki Santang dengan Dewi Rengganis.

Ki Santang dan Dewi Rengganis pernah menjalin asmara, tetapi berpisah dalam waktu yang cukup lama. Karena cintanya yang begitu mendalam, mereka saling mencari dan akhirnya bertemu di sebuah tempat yang sampai sekarang dinamakan Batu Cinta tersebut.

Pada saat pertemuan itu, Dewi Rengganis meminta dibuatkan sebuah danau dan perahu untuk berlayar bersama. Di sekitar batu Cinta itulah, konon situ atau danau ini dibuat.

Dari situ pula, bagi siapa (pasangan) yang singgah di Batu Cinta dan mengelilingi Pulau Asmara, senantiasa mendapat cinta yang abadi seperti Ki Santang dengan Dewi Rengganis.

Dari objek wisata Kawah Putih, danau yang terletak di kawasan cagar alam seluas 123.077,15 hektare tersebut, hanya berjarak 7 kilometer atau sekitar 10 menit. Perjalanan dari Kawah Putih menuju Situ Patenggang cukup menyenangkan. Wisatawan disuguhi hamparan kebun teh yang hijau serta sejuknya hutan yang masih rimbun dengan pepohonan yang cukup besar.

Bagi pengemar offroad, kawasan Situ Patenggang juga menjadi salah satu jalur jelajah. Jalan berkelok di kaki perbukitan di antara dua kawasan wisata alam tersebut akan menambah perjalanan para wisatawan menjadi semakin berkesan.

Nah, selain mitologi cinta yang dipertemukan kembali setelah dipisahkan oleh jarak dan waktu, yaitu Ki Santang dengan Dewi Rengganis, cerita tentang batu ajaib juga terdapat di Situ Patenggan.

Abah Endeh (65), salah seorang warga sekitar Situ Patenggang, mengungkapkan beberapa puluh tahun yang lalu ada seorang pria datang dari Bogor dan memancing ikan di danau tersebut. Selama dua hari dua malam, pria itu tidak bergerak dari tempat dia mancing.

Menurut Abah Endeh, pria itu mancing seperti pada umumnya orang memancing: menggunakan kail, pakan, dan menjulurkan joran pancingnya ke dalam danau. Saat itu, kata Abah Endeh, banyak warga yang heran karena berhari-hari orang tersebut tidak pergi dari tempatnya memancing.

Selama berhari-hari memancing ikan di tempat itu, orang ini pun tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. Tak satu pun ikan menyangkut pada kail pancingnya. Di hari kedua, pria ini kaget bukan kepalang karena ada batu berukuran genggaman tangan menyangkut di kailnya bagaikan ikan.

Melihat kejadian tersebut, kata Abah Endeh, orang ini mengumpat, kesal sekesal-kesalnya. Umpatan dan cacian tersebut diketahui oleh warga sekitar. Sampai akhirnya, beberapa orang mencoba menenangkannya. Namun, pria ini tak kunjung diam, malah semakin mengumpat.

Setelah puas dengan umpatannya, pria itu melemparkan batu tersebut ke dalam danau. Namun aneh, ketika batu itu masuk ke dalam danau, tiba-tiba air tempat di mana batu itu terjatuh menyemburkan air yang cukup besar menjulang ke atas.

Pria dan warga yang melihat kejadian itu pun menjadi kaget, aneh melihat peristiwa yang tak pernah mereka jumpai sebelumnya. Air itu menyembur berkali-kali dan semakin menjulang ke atas.

Dari situlah, pria pemancing yang membuang batu itu menjadi sadar, dan kembali meneruskan memancingnya. Bukan ikan yang ingin dia pancing, tetapi berharap batu itu kembali lagi ke tangannya.

Warga meyakini bahwa batu tersebut adalah batu ajaib yang bisa membawa keberkahan. Namun setelah berminggu-minggu, batu ajaib itu tak kunjung datang. Hingga saat ini, masih banyak warga yang ingin mendapatkan batu ajaib tersebut.