Teten Masduki: Perkuat Daya Saing UMKM dan Platform Digital

Notification

×

Iklan

Iklan

Teten Masduki: Perkuat Daya Saing UMKM dan Platform Digital

Selasa, 11 Mei 2021 | 18:37 WIB Last Updated 2021-05-11T11:37:18Z


NUBANDUNG
- Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki meminta pelaku UMKM segera beradaptasi dan memaksimalkan dunia digital dalam menjalankan bisnisnya. Di sisi lain, program gagasan bertajuk Bangga Buatan Indonesia (BBI) bisa berpengaruh besar untuk konsumen.


Menurutnya, pandemi Covid-19 yang terjadi pada tahun 2020 membuat perubahan pasar dan memaksa para pelaku industri berevolusi agar kinerja bisnisnya tetap bertahan. Apalagi, UMKM dianggap representasi 99 persen populasi pelaku usaha.


“Terus berinovasi dan beradaptasi untuk pulih dari dampak pandemi, dan bangkit kembali dengan produk atau proses bisnis yang dapat bersaing di level nasional dan global," kata dia usai membuka acara Jabar Culture and Tourism Festival (JaFest) 2021, di Kota Bandung.


“Transformasi pelaku UMKM adalah transformasi digital. Harus mampu memanfaatkan sepenuhnya fitur, kemudahan, dan keunggulan dari platform digital," sambungnya.


Dalam JaFest 2021 tersebut, ada acara khusus UMKM Expo 2021 yang diikuti 2.000 UMKM. Produk mereka bisa diakses dalam digital platform milik IKA Unpad, IA ITB, ILUNI UI dan HA IPB.


Teten berharap, ribuan UMKM ini bisa mengambil peran dalam proses transformasi digital bagi UMKM yang lain. Hingga akhirnya mayoritas UMKM menjadi entitas usaha yang piawai mengeksplorasi pasar digital.


"Digitalisasi UMKM tidak hanya sebatas pada tahap on boarding UMKM ke platform e-commerce. Namun, bagaimana mereka mampu berkompetisi,” terang dia.


Gerakan Bangga Buatan Indonesia


Gerakan Nasional (Gernas) BBI pun segera dilakukan di Jabar pada April 2021 dengan tagline UKM Jabar Paten. Pemerintah menargetkan pada 2023 ada tambahan 30 juta UMKM Indonesia yang terintegrasi dalam ekosistem digital (on-boarding).


Gerakan dalam program ini fokus pada produk-produk artisan. Yakni produk-produk yang sudah dikurasi menjadi produk unggul, tetapi bukan mass production. Misalnya, produk costum, hand made, serta produk berkualitas premium yang bisa bersaing dengan produk asing.


Dari sisi kualitas, produk asli Indonesia tidak kalah saing dengan produk luar. Salah satu contoh, kopi dengan brand lokal jauh lebih diminati daripada brand luar. Bahkan, sepatu olahraga buatan anak muda Bandung masuk ke mal kelas atas di Tokyo.


“Selama ini brand kita yang bagus tidak diberi tempat ruang usaha. Misalnya di mal kelas atas yang tempat premium place-nya dikasih ke brand luar. Ini harus ada keberanian dari pengelola mal kita untuk menghadirkan brand-brand lokal agar tidak kalah dengan brand besar," katanya.


Bagi Teten, ini juga merupakan bagian dari kampanye produk lokal. Karena, di dalam negeri banyak produk lokal yang kualitasnya lebih bagus dan harganya lebih murah, tapi brand image-nya kurang dibangun dengan baik.


Faktor lain adalah mental masyarakat yang masih kurang percaya diri dengan produk dalam negeri. Akhirnya, mereka memilih produk asing meski merogoh kocek cukup dalam. "Semoga Gernas BBI Jabar bisa menghasilkan penjualan, jumlah on boarding UMKM dan ekspos sosial media yang membanggakan," tandasnya.