Keteguhan Diri dan Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

Notification

×

Iklan

Iklan

Keteguhan Diri dan Optimisme di Tengah Pandemi Covid-19

Jumat, 03 September 2021 | 05:00 WIB Last Updated 2022-09-09T01:42:14Z


Oleh: Drs H. IDAT MUSTARI, S.H,
Pemerhati Masalah Sosial-Keagamaan


Mengeluh, ketika menjalani kehidupan, merupakan sesuatu yang kerap terjadi dalam menjalani hidup. Hampir semua tingkatan usia; mulai remaja sampai dewasa juga pria dan wanita, ketika kondisi sedang ditimpa kesulitan, mengeluh dan mengeluh tiada akhir. 


Mengeluh, tanpa ada upaya keluar dari kesulitan sama saja dengan bohong, karena kita tidak akan mampu berbuat apa-apa. Beragam masalah yang sedang membelit  tidak akan pernah selesai bila dihadapi dengan keluh kesah.


Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.


Pada suatu ketika, ia merasa jenuh dengan kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini. Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan tidak memiliki arti.


“Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini,” katanya dalam hati. 


Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di sebatang pohon. Sementara itu, pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba menyela lembut. 


“Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang, bila dia patah. Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di situ, bernyanyi riang untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini.”


Pemuda itu pun pergi melanjutkan memilih pohon yang lain, tidak jauh dari situ. Saat bersiap-siap melakukan bunuh  diri, kembali terdengar suara lirih si pohon, 


“Hai anak muda. Kamu lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke tempat lain. Kasihanilah lebah dan manusia yang telah bekerja keras tetapi tidak dapat menikmati hasilnya.”


Sekali lagi, tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain. Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, 


“Anak muda, karena rindangnya daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat atau berteduh di bawah dedaunanku. Tolong jangan mati di sini.”


Setelah pohon yang ketiga kalinya, si pemuda termenung dan berpikir, “Bahkan sebatang pohon pun begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan bermanfaat bagi makhluk lain”.


Segera timbul kesadaran baru. “Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa pula bermanfaat bagi makhluk lain”.


Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan lega.


Pemuda di atas, awalnya ia terlalu lemah untuk berjuang dalam hidup. Ia selalu tidak puas dengan anugrah pekerjaan yang Allah berikan padanya. Ia mengeluh tentang pekerjaannya, kelelahannya, dan kemiskinannya. Tentu saja hal ini akan berakibat pada keluh kesah yang putus asa. 


Kalau kita mengisi kehidupan ini dengan mengeluh, kehidupan akan berubah menjadi beban berat. Ketika kita tidak sanggup lagi menanggungnya, saat itu pula akan mengambil jalan pintas. 


Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari hidup begitu indah, sempurna dan menggairahkan, tentunya akan memicu penghargaan pada kehidupan. Kita akan mengisi kehidupan kita dengan optimisme, penuh harapan dan cita-cita yang diperjuangkan. 


Dalam bahasa lain, kehidupan kita tempatkan dalam sebuah kerangka kebersyukuran, dengan berusaha tidak pernah berputus asa. Kita akan menggunakan waktu sebaik-baiknya untuk kemajuan diri sendiri dan orang di sekitar. 


Waktu dan kesempatan itu datang setiap hari. Bahkan, di dalam firman Allah (Al-Quran) kita akan mendapatkan jawaban tentang pentingnya meyakini hidup sebagai tempat menanam keyakinan. 


Allah Swt. dengan tegas berfirman, “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran [3]: 139).


Kalau kita tidak memiliki hati yang ikhlas dan bersih menjalani kehidupan ini, tentu saja kita akan menjadi orang yang selalu mengeluh. 


Seorang sahabat pernah bertanya pada Nabi Saw., “Apa yang dimaksud hati yang bersih (suci) itu?” Beliau menjawab, “(Yaitu) seseorang mengetahui bahwa Allah ‘azza wa jalla selalu bersamanya di mana saja dia berada.” (HR. Thabrani). 


Ketika kita berkeluh kesah saat ditimpa kesulitan, Allah akan selalu menjawab keluh kesah kita dengan dibukakannya jalan keluar. Allah Swt., berfirman, “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At Taubah [9]: 40).


Ciri manusia yang berbahagia dalam hidup bisa dilihat dari dua perspektif. 


Pertama, Orang yang menentukan pilihannya berdasarkan pilihan Allah Swt., tidak berdasarkan egos, hawa nafsu dan keinginan duniawi. 


Allah Swt., berfirman, “Niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya dia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab [33]:71). 


Kedua, orang yang menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah tentukan untuknya tanpa banyak mengeluh.


Sementara itu, ada dua ciri orang yang sengsara di akhirat. 


Pertama, adalah orang yang tidak mengikutsertakan Allah Swt. ketika hendak menentukan pilihan. 


Orang tersebut meninggalkan tata aturan-Nya, ketika dirinya berhadapan dengan pilihan hidup. Alih-alih melaksanakan shalat istikharah, misalnya, untuk memenentukan pilihan, dia bertanya pada peramal bintang dan mengmbil sio landasan mengambil keputusan, yang bertentangan dengan ajaran Islam. 


Kedua, yakni orang yang menolak apa yang telah Allah berikan jawabannya atas pilihan hidup untuknya. 


Dengan bahasa lain, dia tidak menerima takdir yang diberikan Allah kepadanya. Kita mengenal orang semacam ini bagaikan, “Dikasih daging minta hati.” Kita jangan heran kalau di dalam kehidupan sehari-hari, kerap ditemukan orang yang kecewa karena dia salah memilih sehingga muncul ucap serapah kepada Allah, “Ya Tuhanku, kenapa Engkau jadikan aku begini”. 


Sebagai seorang mukmin seharusnya kita bertawakal karena siapa tahu hasil dari pilihan itu bisa menuntun ke surga. Tidak arif rasanya apabila Tuhan dijadikan sebagai objek sumpah serapah kita. Dia adalah Maha Pemilik kehidupan. Dan, menjadi hak prerogatif bagi-Nya untuk menimpakan apa saja kepada makhluk-Nya. 


Allah benar-benar mengerti segala kebutuhan, resah, gelisah, risau, galau, dan kemenderitaan hati kita. Sebetulnya mengeluh adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan zikir pada Allah, ia tidak akan menjadi manusia yang bersikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya ketika menjalani kehidupan. Ia akan menjadi orang yang berani, optimis, dan penuh vitalitas hidup.  


Apabila hati kita diterangi Allah akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Dia selalu bersama kita. Karena itulah, di dalam diri akan muncul dorongan untuk berusaha maksimal keluar dari kesedihan dan kemenderitaan hidup. Allah berjanji akan memberi jalan keluar pada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, tidak mengeluh dan senantiasa berusaha. 


Sadarkah kita bahwa Allah datang ke hadapan kita untuk memberikan jawaban atas keresahan dan keluh kesah kita?