Notification

×

Iklan

Iklan

Batik Banten, Kaya Filosofi dan Penuh Keragaman Motif

Minggu, Oktober 03, 2021 | 12:02 WIB Last Updated 2021-10-03T05:03:49Z


NUBANDUNG
– Kala berkunjung ke daerah Banten, jangan lupa membawa pulang Batik Banten. Batik yang telah menjadi oleh-oleh khas Banten ini, merupakan karya hebat dari putra daerah asli Banten, Uke Kurniawan.


GBB berlokasi di daerah Cipocok, Kota Serang, Banten. Di sana pengunjung bukan hanya bisa membeli, namun bisa pula melihat proses pembuatan batik, sesi edukasi tentang batik, hingga mencoba membatik.


Menurut pengakuan Uke, pengembangan diawali dari keterlibatan dirinya dalam berbagai kajian pemanfaatan ragam hias khas daerah pada gaya arsitektur dan budaya di masa lalu.


Berkat keuletannya, Uke pun berhasil melahirkan ragam motif batik khas Banten yang merujuk pada jejak arsitektur dan benda-benda sejarah peninggalan Kasultanan Banten. Kelebihannya, setiap motif disertai dengan filosofinya. Filosofi tersebut didapat Uke dari hasil kerja sama dengan para arkeolog dan sejarawan.


Motif dan filosofi Batik Banten


Pada pertemuan terakhir dengan Uke beberapa waktu lalu. Ia menyebutkan sudah mengantongi sekitar 250 motif disertai filosofinya, 170 motif lebih sudah dipatenkan. Motif-motif tersebut dipatenkan bersama para arkeolog dan sebagian bersama ilmuwan dari Universitas Indonesia.


Ragam motif disertai filosofinya itulah yang menjadi pembeda dengan batik lainnya. Ciri utamanya, motif batik dibuat bukan berdasarkan kreasi ciptaan seseorang, tapi merupakan motif dari ragam hias yang ada di peninggalan arkeologis di Banten.


“Ada tiga hal yang membedakan batik di sini dengan corak batik daerah lain di Indonesia, di antaranya motif batiknya memiliki pola dasar ragam hias yang berasal dari benda sejarah purbakala yang disebut Artefak Terwengkal hasil ekskavasi Arkeolog tahun 1976 di Banten,” ungkap Uke.


Dari segi warna, batik ini didominasi warna abu-abu lembut (soft) yang menunjukkan karakter orang Banten. Makna sifat warna tersebut, antara lain cita-cita, ide, kemauan, dan tempramennya cenderung tinggi namun pembawaan selalu sederhana atau kalem.


Nama-nama motifnya pun secara filosofis saling berkaitan dengan sejarah Banten. Diambil dari toponim desa-desa kuna, nama gelar bangsawan atau sultan, dan nama tata ruang di Kasultanan Banten.

X
X