NUBANDUNG.ID -- Marilah kita meningkatkan takwa kepada Allah SWT. Ketakwaan adalah modal utama untuk meraih keberkahan dunia akhirat; takwa bukan sekadar simbol ritual, tetapi kesiapan batin dalam menjalani proses kehidupan, termasuk dalam pendidikan dan pembelajaran.
Pada hari ini kita berada di Bulan Sya’ban, bulan yang kerap dilalaikan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ
“Itu adalah bulan yang banyak manusia melalaikannya, terletak antara bulan Rajab dan bulan Ramadan.” (HR. An-Nasa’i).
Para ulama salaf memberi perumpamaan sangat bermakna:
شَهْرُ رَجَبٍ شَهْرُ الزَّرْعِ، وَشَهْرُ شَعْبَانَ شَهْرُ السَّقْيِ، وَشَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرُ الْحَصَادِ
— Rajab adalah bulan menanam, Sya’ban bulan menyiram, Ramadan bulan memanen.
Rajab telah kita lalui sebagai bulan “menanam” benih taubat, niat, dan perubahan diri. Namun benih tidak akan tumbuh tanpa disiram dan dirawat; itulah hakikat Sya’ban. Allah SWT berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا… مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan yang dimuliakan.”(QS. At-Taubah: 36).
Ayat ini mengingatkan bahwa waktu adalah sarana pendidikan jiwa: setiap fase termasuk Sya’ban membentuk karakter dan persiapan ruhani. Rasulullah ﷺ pun memberi teladan dalam memperbanyak puasa sunnah di bulan ini:
كَانَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ أَوْ إِلَّا قَلِيلًا
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa di bulan Sya’ban hampir seluruhnya.”(HR. Bukhari & Muslim).
Ini adalah latihan kesiapan ruhani agar ketika Ramadan tiba, jiwa telah siap dengan kekhusyukan dan konsistensi.
Hadirin Rahimakumullah,
Dalam konteks kehidupan kita saat ini, bulan Sya’ban juga menjadi cermin penting bagi dunia pendidikan. Kita tengah memasuki Semester Genap Tahun Pelajaran 2025/2026, fase penentu produktivitas, karakter, dan kedewasaan akademik. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Ayat ini menegaskan pentingnya evaluasi, persiapan, dan antisipasi masa depan dalam setiap aspek kehidupan termasuk pendidikan. Maka kesiapan menjemput semester baru bukan hanya soal kurikulum, tetapi kesiapan batin, motivasi, karakter, dan konsistensi belajar.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Dari Bulan Sya’ban kita belajar lima pelajaran spiritual dan keilmuan yang sejalan dengan kesiapan pembelajaran semester genap: Pelajaran Pertama, Disiplin Proses. Sya’ban mendidik kita untuk menghargai proses, bukan sekadar hasil akhir.
Hal ini sejalan dengan persiapan pembelajaran semester genap: (1) Pemanasan (Warming Up) (2) Konsistensi Ibadah/Belajar, da (3) Persiapan Matang: Disiplin proses berarti menanamkan kebiasaan belajar yang teratur, sedikit demi sedikit, namun rutin. Ini mencerminkan kesiapan mental dan keilmuan yang lebih baik, sehingga materi semester genap dapat diserap dengan maksimal.
Dengan menerapkan disiplin proses di bulan Sya’ban, kita membangun kebiasaan baik yang akan mempermudah pencapaian tujuan pendidikan di semester genap. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللّٰهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
Pada pendidikan, ini berarti konsistensi belajar harian, disiplin menyelesaikan tugas, dan manajemen waktu analog dengan menyiram benih iman setiap hari.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Kedua, Evaluasi Diri. Karena amal diangkat di bulan Sya’ban, maka ini adalah momen muhasabah: mengevaluasi kekuatan dan kelemahan diri sebelum semester genap berlangsung. Pelajaran evaluasi diri (muhasabah) dari bulan Sya’ban adalah poin krusial dalam persiapan spiritual dan akademis menjelang semester genap.
Berikut adalah penjabaran bagaimana momen diangkatnya amal di bulan Sya’ban dapat menjadi sarana evaluasi diri:
(1) Muhasabah Amal (Evaluasi Spiritual) Sya’ban adalah bulan di mana amal perbuatan manusia diangkat dan dilaporkan kepada Allah SWT.
(2) Persiapan Akademis (Evaluasi Kekuatan dan Kelemahan) Sejalan dengan spiritual, momen ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan evaluasi diri akademis. Evaluasi diri di bulan Sya’ban adalah momen untuk meng-upgrade diri (baik spiritual maupun intelektual) agar siap menjalani semester genap dengan lebih kuat, disiplin, dan terarah.
Rasulullah SAW bersabda mengenai keutamaan bulan Sya’ban sebagai bulan diangkatnya amal:
ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِـيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Bulan itu (Sya’ban) banyak manusia yang lalai, yaitu (bulan) antara Rajab dan Ramadhan, bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb semesta alam, dan aku ingin amalku diangkat dalam keadaan aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i: 21753, Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah).
Poin Penting Evaluasi Diri (Upgrade Diri) di Bulan Sya’ban:
(1) Penyucian Ruhani (Spiritual): Memperbanyak puasa sunnah, istighfar, dan membaca Al-Qur’an sebagai bentuk latihan (training) diri sebelum Ramadhan.
(2) Peningkatan Integritas (Intelektual): Memperbaiki niat dan meningkatkan disiplin dalam belajar atau bekerja sebagai wujud evaluasi amal yang akan diangkat.
(3) Momentum Perubahan: Mengubah kebiasaan yang kurang produktif di semester lalu menjadi lebih terarah di semester genap. Semoga di bulan Sya’ban ini, kita dapat memaksimalkan potensi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik saat memasuki bulan Ramadhan.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Ketiga, Latihan Kesiapan Spiritual dan Mental di Bulan Syaban. Puasa sunnah, zikir, dan tilawah menguatkan jiwa. Demikian pula dalam pembelajaran, persiapan mental menghadapi pembelajaran aktif, ujian, proyek, dan kolaborasi harus dilatihkan sejak awal.
Rasulullah SAW bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara:
(1) Waktu mudamu sebelum datang masa tuamu,
(2) Waktu sehatmu sebelum datang masa sakitmu,
(3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu,
(4) Waktu luangmu sebelum datang masa sibukmu, dan
(5) Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Hakim).
Relevansi dengan Pembelajaran: Sama seperti Rasulullah SAW memperbanyak puasa di bulan Sya’ban sebagai “pemanasan” spiritual sebelum Ramadhan, seorang pelajar atau pendidik harus melatih mental dan kesiapan teknis saat situasi masih terkendali (“waktu luang/persiapan”) sebelum menghadapi puncak beban belajar (“masa sibuk” seperti ujian atau proyek besar).
Selain itu, terdapat hadits lain yang menekankan pada konsistensi dalam latihan/amal: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
Hal ini mengajarkan bahwa persiapan mental dan spiritual, baik dalam ibadah maupun belajar, harus dilakukan secara bertahap dan konsisten agar jiwa menjadi kuat saat menghadapi tantangan besar.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Keempat, Pembersihan Relasi di bulan Sya’ban. Rasulullah ﷺ bersabda:
يَطَّلِعُ اللّٰهُ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ…
“Allah melihat makhluk-Nya pada malam Nisfu Sya’ban lalu mengampuni semuanya kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
(HR. Ibnu Majah).
Ini mengajarkan kita untuk memperbaiki relasi sosial dalam lingkungan belajar antara guru dan siswa, antara teman, serta orang tua supaya iklim akademik menjadi sehat. Pembersihan relasi (hubungan antarmanusia) merupakan salah satu amalan penting di bulan Sya’ban sebagai persiapan rohani menjelang bulan suci Ramadan. Sya’ban adalah bulan di mana amalan diangkat ke hadirat Allah SWT, dan menjadi momen yang tepat untuk membersihkan hati dari kebencian serta memperbaiki hubungan yang retak.
Berikut adalah poin-poin penting terkait pembersihan relasi di bulan Sya’ban berdasarkan prinsip Islam:
(1) Pentingnya Memaafkan sebelum Ramadan; Bulan Sya’ban, terutama pada malam Nisfu Sya’ban, diyakini sebagai waktu di mana Allah SWT mengampuni dosa hamba-hamba-Nya, kecuali mereka yang syirik dan mereka yang memiliki permusuhan atau dendam terhadap sesamanya. Oleh karena itu, memaafkan dan berdamai adalah syarat mutlak untuk mendapatkan ampunan maksimal.
(2) Perbaikan Silaturahmi; Umat Muslim dianjurkan untuk mempererat tali silaturahmi, saling memaafkan, dan menyambung kembali hubungan yang terputus dengan keluarga, kerabat, atau sahabat. Ini adalah bentuk menyucikan jiwa sebelum masuk ke bulan puasa.
(3) Menghilangkan Sifat Iri dan Dengki; Pembersihan relasi tidak hanya sebatas bertegur sapa, tetapi juga membersihkan hati dari penyakit iri, dengki, dan dendam yang dapat merusak pahala amal ibadah.
(4) Mencari Ridha Sesama; Mendekati Ramadan, penting untuk menyelesaikan perselisihan duniawi maupun kesalahpahaman masa lalu agar ibadah puasa dapat dilakukan dengan hati yang tenang dan fokus.
Hikmah Pembersihan Relasi; Memperbaiki hubungan di bulan Sya’ban akan memudahkan seseorang untuk mendapatkan ketenangan jiwa, meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan, serta mendapatkan keberkahan umur dan rezeki. Singkatnya, Sya’ban adalah “kamp pelatihan” untuk membersihkan hati dan hubungan, agar saat memasuki Ramadhan, seorang Muslim berada dalam keadaan suci dan fokus sepenuhnya pada ibadah.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Pelajaran Kelima, Integrasi Iman dan Ilmu. Allah SWT berfirman:
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-An‘am: 162).
Ini mengokohkan prinsip bahwa ilmu yang dipelajari dan diamalkan adalah bagian dari ibadah, sehingga pendidikan bukan sekadar mencari nilai, tetapi mencari keberkahan dan kontribusi sosial.
Berikut adalah penjabaran prinsip tersebut berdasarkan ayat di atas:
(1) Ilmu sebagai Ibadah: Menuntut ilmu dan mengamalkannya dipandang sebagai bentuk ibadah, bukan hanya sarana mencapai kesuksesan duniawi atau sekadar mendapatkan nilai akademis.
(2) Pendidikan Berbasis Keberkahan: Dengan meniatkan belajar sebagai bentuk ketaatan, pendidikan menjadi sarana untuk mendapatkan keberkahan ilmu yang bermanfaat (ilmu yang membawa kebaikan bagi diri dan orang lain).
(3) Kontribusi Sosial (Khairunnas): Ilmu yang dipelajari tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan ditransformasikan menjadi kontribusi positif bagi masyarakat (sosial) sebagai wujud pengabdian kepada Allah.
(4) Dedication Total: Hidup dan mati diserahkan kepada Allah, yang berarti seluruh aktivitas hidup, termasuk profesionalisme dalam belajar dan bekerja, adalah totalitas pengabdian kepada-Nya.
Dengan demikian, pendidikan dalam perspektif Al-An’am: 162 menekankan pada keikhlasan niat untuk membentuk kepribadian mulia (insan kamil) yang berilmu, beriman, dan bermanfaat bagi lingkungan.
Hadirin jum’ah yang dirahmati Allah,
Sebgai penutup, bila iman dan ilmu disiapkan sejak awal, maka semester genap 2025/2026 akan menjadi masa panen karakter unggul, prestasi, dan kontribusi untuk masyarakat. Semoga di bulan Sya’ban ini, kita dapat memaksimalkan potensi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik saat memasuki bulan Ramadhan. Amiin.
A. Rusdiana, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung


