Sekilas tentang isi Kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari

Notification

×

Iklan

Iklan

Sekilas tentang isi Kitab al-Hikam karya Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari

Senin, 19 Januari 2026 | 19:59 WIB Last Updated 2026-01-19T12:59:04Z



NUBANDUNG.ID -- Kitab al-Hikam membuka wawasan spiritual pembacanya dengan pondasi tauhid yang murni, menekankan bahwa seorang hamba tidak boleh bersandar pada amal perbuatannya sendiri, melainkan harus bergantung sepenuhnya pada rahmat dan karunia Allah.


Ibnu Athaillah memulai dengan peringatan tajam bahwa tanda seseorang masih mengandalkan dirinya sendiri adalah hilangnya harapan saat ia tergelincir dalam dosa. Melalui aforisme-aforisme yang padat, kitab ini mengajarkan bahwa ibadah bukanlah "mata uang" untuk membeli surga, melainkan bentuk syukur dan kewajiban penghambaan, sementara hasil akhir dan penerimaan adalah hak mutlak Allah yang harus diterima dengan kepasrahan total.


Selanjutnya, narasi kitab ini membimbing para penempuh jalan spiritual (salik) untuk memiliki adab batin yang benar dalam merespons segala takdir, baik itu berupa kenikmatan maupun ujian. Dijelaskan bahwa Allah memperkenalkan diri-Nya melalui dua jalan: kelapangan untuk memunculkan syukur, dan kesempitan untuk memunculkan sabar dan kebutuhan mendesak kepada-Nya. 


Al-Hikam melatih mata hati manusia untuk tidak tertipu oleh kulit luar kejadian duniawi, melainkan mampu melihat hikmah ilahiah di balik setiap peristiwa, serta memahami bahwa tertundanya pengabulan doa bukanlah bentuk penolakan, melainkan pilihan waktu terbaik dari Sang Pencipta.


Pada akhirnya, muara dari seluruh ajaran dalam kitab ini adalah pencapaian ma'rifatullah, yaitu kondisi di mana hati seorang hamba tidak lagi terhalang oleh makhluk dalam memandang Khalik. Kitab ini mengajak pembacanya untuk melakukan "uzlah" (pengasingan) di dalam hati—membersihkan batin dari ketergantungan pada dunia—meskipun secara fisik tetap berinteraksi dengan masyarakat. 


Tujuannya adalah membentuk pribadi yang tenang dan stabil secara spiritual; seseorang yang tidak lagi mabuk oleh pujian dan tidak tumbang oleh cacian, karena hatinya telah sampai dan tertambat kuat hanya kepada Allah SWT.


Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung