NUBANDUNG.ID -- Dini hari belum sepenuhnya usai ketika suara tilawah Al-Qur’an terdengar dari selasar Masjid Raya Habiburrahman, Bandung. Ayat-ayat dilantunkan perlahan, bersahut-sahutan, memecah sunyi Kamis (12/3/2026).
Di bawah lampu-lampu masjid yang redup, para jamaah duduk bersila. Mushaf terbuka di tangan mereka. Sebagian membaca dengan suara lirih, sebagian lagi hanya menggerakkan bibir sambil mengikuti baris-baris ayat.
Selasar masjid itu kini berubah seperti perkampungan kecil. Sekitar 500 tenda berdiri berjajar di halaman dan sisi bangunan. Di dalamnya, para jamaah menginap selama sepuluh hari terakhir Ramadhan.
Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada mahasiswa, pekerja, hingga keluarga yang sengaja mengambil cuti untuk bermalam di masjid. Jumlah jamaah setiap malam diperkirakan berkisar 2.000 hingga 4.000 orang.
Beberapa jamaah terlihat membungkus diri dengan jaket tebal. Udara Bandung pada dini hari cukup menusuk. Namun dingin tak terlalu terasa ketika masjid dipenuhi aktivitas ibadah.
Di satu sudut, seorang jamaah menundukkan kepala lama sekali di atas sajadah. Tak jauh dari sana, dua orang remaja membaca Al-Qur’an bergantian. Halaman mushaf mereka bergerak perlahan, seiring waktu yang seakan berjalan lebih tenang.
Sepuluh malam terakhir Ramadhan selalu menjadi waktu yang ditunggu umat Islam. Dalam keyakinan mereka, pada salah satu malam itulah turun Lailatul Qadar, malam yang disebut Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan.
Karena itu, para jamaah memilih menetap di masjid. Mereka menghidupkan malam dengan shalat sunnah, membaca Al-Qur’an, dan berdoa. Aktivitas yang sama berulang dari malam ke malam.
Sesekali terdengar langkah kaki jamaah menuju ruang utama masjid. Ada yang mengambil air wudu, ada yang baru selesai shalat tahajud.
Menjelang sahur, suasana sedikit berubah. Lampu-lampu kecil di dalam tenda mulai menyala. Beberapa jamaah menyiapkan makanan sederhana. Namun di banyak sudut, mushaf Al-Qur’an masih terbuka.
Tak ada yang tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar datang. Tapi bagi ribuan jamaah di Masjid Raya Habiburrahman, menunggu malam itu adalah bagian dari ibadah.
Dan hingga azan Subuh berkumandang, selasar masjid tetap hidup oleh ayat-ayat yang dibaca pelan—di antara tenda-tenda yang menjadi saksi pencarian manusia terhadap malam paling sunyi dan paling mulia dalam Ramadhan.
