Mengenal Karinding, Alat Musik Tradisional Sunda Buhun

Notification

×

Iklan

Iklan

Mengenal Karinding, Alat Musik Tradisional Sunda Buhun

Selasa, 07 Desember 2021 | 13:47 WIB Last Updated 2021-12-07T06:47:31Z



NUBANDUNG
— Mendengar karinding, mungkin kebanyakan orang masih cukup asing dengan salah satu alat musik tradisional ini. Karinding merupakan salah satu alat musik tradisional khas Sunda yang terbuat dari bahan bambu atau pelepah kawung.


Menurut sejarah, karinding sudah ada sejak enam abad lalu, alat musik ini juga diperkirakan lebih tua dari alat musik gamelan dan kecapi.


Dilihat dari bentuknya yang kecil dan sederhana, alat musik ini termasuk dalam jenis lamelafon atau idiofon. Seperti alat musik pada umumnya, Kkrinding dapat dimainkan dengan dua jenis nada, yakni melodi dan ritme.


Menurut salah satu penggiat komunitas Barak Karinding, Ahmad Lamhatunnazdori, karinding dikenal sebagai alat untuk mengusir hama.


“Kegunaan awalnya, untuk mengusir hama. Karena pada saat dahulu mayoritas masyarakat adalah petani. Suara dari alat musik ini dapat menghasilkan gelombang suara yang mampu mengusir hama menjauhi ladang,” jelas Ahmad yang akrab disapa Kang Ncek, saat mengisi Seminar Kebudayaan di Universitas Serang Raya belum lama ini.


Selain itu alat musik Karinding juga dapat digunakan untuk memikat pasangan atau lawan jenis.


“Masyarakat jaman dahulu juga sering memainkan alat musik ini pada saat berkunjung ke rumah sang pujaan hati untuk memikat lawan jenisnya,” kata Kang Ncek.


Karinding juga dinilai dapat membuat merinding siapa saja yang mendengarnya dengan hati.


“Bagi siapa saja yang mendengar suara dari Karinding akan dibuat merinding jika didengar menggunakan hati. Untuk itu dalam mempelajari budaya kita harus mempertajam rasa serta memperhalus budi,” tambahnya.


Kang Ncek pun menjelaskan cara menggunakan Karinding tidaklah sulit dan tidak juga mudah.


“Ada beberapa tekniknya, pertama cara memegangnya harus sejajar. Kemudian cara memukulnya dipantulkan menggunakan jari telunjuk.  Dan kemudian diletakan di mulut, posisi jarum tidak boleh menempel pada bibir ataupun gigi. Cara memainkannya pun menggunakan tiga filosifi, yaitu harus yakin, sabar, dan sadar,” jelasnya.


Di samping itu, dalam melestarikan alat musik Karinding, komunitas Barak Karinding atau disingkat Bakkar ini seringkali memberikan edukasi tentang karinding melalui seminar, pertunjukan, hingga pagelaran seni.


Barak Karinding juga membuka ruang bagi siapa saja yang ingin mengenal serta belajar alat musik Karinding.


“Bagi yang ingin belajar alat musik karinding bisa langsung datang ke sanggar kami di Desa Sentul Jaya, Kecamatan Balaraja, Tangerang, Banten,” tutup Kang Ncek.